Ketika embun mulai meresap ke dalam daun
Kau baru bernama kuncup
Hijau dan sangat mempesona
Sepasang mimpi bergayut di matamu
Seperti warna pelangi diantara langit dan bumi
Jari-jari matahari masih serupa sutra
Yang lembut, hangat saat didekap
Bahkan diantara dahan dan rumput
Gemersik kabut terlihat menggeliat
Aroma pagi belum lagi pergi
Tapi mengapa puisi itu tak pernah kutulis
Menjadi rangkaian sajak dengan diksi manis
Jari-jariku gemetar ketika hendak menuliskan sebuah nama
Sedangkan kau seharusnya teramat indah, dari yang paling indah
Karena kau terlahir dari terdalam jiwa
Kata-kata yang tak pernah habis kuungkap
Airmata yang tak pernah kering untuk kutangisi
Sampai hari ini aku tak mampu mengukur waktu
Jarak yang makin membuatku tersedu
Mengalir sejarak dengan waktu
Yang tak lagi mungkin dapat kusentuh
Betapapun indah symphony cinta
Yang tercipta dari alunan kesedihan
Hapus dan kenanglah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar